Wednesday, January 25, 2017

PESAN TERAKHIR












Disela bisik angin yang berhembus
Kutitip pesan rinduku tersirat
Aku seperti kau tersesat
Menantang keras hidup
Dari balik baju besi yang tak mampu ku bawa sendiri

Malam ini
Sajakku menyajung
Sambil kutengadahkan tangan
Memuja ilahi berselimut harapan dan kecemasan

Aku seorang serdadu
Bukan seorang babu
Bebanku terlalu barat tuk kupikul
Ada titah raja yang menginjak
Menuntunku hancurkan perisai kehidupan

Esok akan kucoba kembali
Menuliskan titah pada sebuah prasasti
Hingga kelak anak cucuku tau
Aku pernah hidup sebagai seorang pemberontak

Monday, January 23, 2017

Tetang Sesuatu














Ini tentang sesuatu
Tentang langkah terbatah
Yang mencoba meraih sebutir gandum
Ada silat lidah
menuntun mata pada sesuatu
Ini bukan tentang cinta
Bukan pula tentang perjuangan
mengangkat senjata

Ini tetang sesuatu
Sesuatu yang mungkin lebih kritis
Tentang apa yang memacu nadi berfikir
Tentang mereka yang membuat
Wajah ini memucat

Ini tentang sesuatu
Bukan Tentang cerita horror
Yang membuat anak kecil menangis
Bukan pula tentang hembus nafas teengah
Memacu birahi

Ini tentang sesuatu
Tentang keserakahan
Tentang kemunafikan
Yang bersembunyi dibalik Topeng
Yang mereka umbar

Tuesday, June 28, 2016

Untuk Tuan




















Dari beberapa kata yang tuan sabdakan
Tersirat sebuah cerita
Tentang desah nafas yang membangkang
Tentang lantang tuan menolak penindasan

Sejarah telah mencatat
Semangat pantang menyerah
Perjuangan tuan
Yang tak kenal putus asa

Tuan Sosok yang terpilih
Wibawa tuan butakan kami
Kami seolah terhipnotis
Kami terhanyut cerita fiksi

Kami tersadar
Ini semua hanya sandiwara
Kami terjerat dalam cerita
Untuk memperbudak kami yang tertindas

Thursday, June 23, 2016

Bimbang
















Saat ku ayungkan langkah
Bisik hati terus bertanya
Sebuah pertanyaan
Yang Tuhan sendiri tak tau jawabannya

Lelah kemudian terpampang
Seolah menjadi selimut
Pada pertanyaan yang tak terjawab

Mungkin terlalu jauh melambungkan angan
Mungkin Urat saraf tak cukup hanya untuk bicara
Mulut pun terdiam, terkunci, dan bungkam
Sehingga tubuh hanya mampu meratap bimbang

Tuesday, November 10, 2015

Penyesalan





Dan akhirnya lelahku berontak
Letihku bercampur amarah
Tubuhku tak bisa bergerak
Seperti terkurung dalam sebuah keranda

Tak sengaja peluru-peluru tajam
Meluncur keberbagai arah
Hingga membuat kawan menjadi lawan
Seperti anjing-anjing yang tak mengenal tuan

Dalam kebimbangan kucabut belatihku
Kuteteskan darah penebus dosa
Sembari berharap langitkan mengulang waktu
Penyesalan tak terlukis dari setiap helai kata

Tuesday, June 30, 2015

Selamat Tidur Kekasih














Tidurlah kekasih...
Hadirkan keindahan saat engkau bermimpi
Hingga saat pagi menghapiri
Nelangsa perlahan terhapus oleh senyuman mentari

Tidurlah kekasih...
Kukirim doa temani mimpi
Agar kau terjaga dari godaan halusinasi
Yang kembali membuat air matamu mengalir

Tidurlah kekasih...
Dekap erat bayangku dalam pelukmu
Kan kubelai helai rambutmu dari jauh
Agar rasa sayangku mekarkan melati
Saat pagi menghampiri

Tidurlah kekasih...
Biarkan terangnya bulan
membuatmu lupa saat kau menangis
Sembari berharap
Semoga esok pagi
Mentari mekarkan melati
Semoga esok pagi
Senyuman yang kupuja kembali menghias hari