Tuesday, June 28, 2016

Untuk Tuan




















Dari beberapa kata yang tuan sabdakan
Tersirat sebuah cerita
Tentang desah nafas yang membangkang
Tentang lantang tuan menolak penindasan

Sejarah telah mencatat
Semangat pantang menyerah
Perjuangan tuan
Yang tak kenal putus asa

Tuan Sosok yang terpilih
Wibawa tuan butakan kami
Kami seolah terhipnotis
Kami terhanyut cerita fiksi

Kami tersadar
Ini semua hanya sandiwara
Kami terjerat dalam cerita
Untuk memperbudak kami yang tertindas

Thursday, June 23, 2016

Bimbang
















Saat ku ayungkan langkah
Bisik hati terus bertanya
Sebuah pertanyaan
Yang Tuhan sendiri tak tau jawabannya

Lelah kemudian terpampang
Seolah menjadi selimut
Pada pertanyaan yang tak terjawab

Mungkin terlalu jauh melambungkan angan
Mungkin Urat saraf tak cukup hanya untuk bicara
Mulut pun terdiam, terkunci, dan bungkam
Sehingga tubuh hanya mampu meratap bimbang

Tuesday, November 10, 2015

Penyesalan





Dan akhirnya lelahku berontak
Letihku bercampur amarah
Tubuhku tak bisa bergerak
Seperti terkurung dalam sebuah keranda

Tak sengaja peluru-peluru tajam
Meluncur keberbagai arah
Hingga membuat kawan menjadi lawan
Seperti anjing-anjing yang tak mengenal tuan

Dalam kebimbangan kucabut belatihku
Kuteteskan darah penebus dosa
Sembari berharap langitkan mengulang waktu
Penyesalan tak terlukis dari setiap helai kata

Tuesday, June 30, 2015

Selamat Tidur Kekasih














Tidurlah kekasih...
Hadirkan keindahan saat engkau bermimpi
Hingga saat pagi menghapiri
Nelangsa perlahan terhapus oleh senyuman mentari

Tidurlah kekasih...
Kukirim doa temani mimpi
Agar kau terjaga dari godaan halusinasi
Yang kembali membuat air matamu mengalir

Tidurlah kekasih...
Dekap erat bayangku dalam pelukmu
Kan kubelai helai rambutmu dari jauh
Agar rasa sayangku mekarkan melati
Saat pagi menghampiri

Tidurlah kekasih...
Biarkan terangnya bulan
membuatmu lupa saat kau menangis
Sembari berharap
Semoga esok pagi
Mentari mekarkan melati
Semoga esok pagi
Senyuman yang kupuja kembali menghias hari

Tuesday, June 16, 2015

Coretan Kecil Hari Ini

Dibenakku,, Telah tertanam deretan kata berbaris rapi kata yang mungkin sanjungan ketika ku tatap pi merah merona mekar seperti rangkaian kelopak mawar Deretan kata yang telah terancang sedemikian rupa hingga ku sadar,, berat bibirku tak sanggup menggoyang lidah untuk berucap Ini bukan cinta hanya sebuah kekaguman pada sesuatu sesuatu keindahan yang membuat sang adam berloba untuk milikinya













Dibenakku,,
Telah tertanam deretan kata berbaris rapi
kata yang mungkin sanjungan
ketika ku tatap pi merah merona
mekar seperti rangkaian kelopak mawar
Deretan kata yang telah terancang sedemikian rupa
hingga ku sadar,,
berat bibirku tak sanggup menggoyang lidah untuk berucap
Ini bukan cinta
hanya sebuah kekaguman pada sesuatu
sesuatu keindahan yang membuat sang adam
berloba untuk milikinya

Friday, March 27, 2015

Hitam
















Saat ombak mulai berbisik cinta pada pasir
Membuat angin tak mampu berkutik
Hingga langit menangiskan hujan
Membungkam kemarau
Yang tak lagi bisa tertawa

Maaf kubukan pujangga pelantun nada
Serak suara membuat kupingmu bernanah
Namun kukan terus dendangkan irama
Hingga bola matamu tangiskan darah

Ini bukan lirik cinta
Bukan pula nyanyian dusta
Ini hanya penggalan kata
Saat coba bertahta di ujung lidah
Saat kau memutar balikkan fakta

Aku bagai seorang nahkoda tanpa perahu
Menerjang ombak dengan sebilah bambu
Terlentang diantara tiang penyangga
Hingga membuat ragaku sakit jiwa

Bumi seolah bernyanyi
Tertawakan kaki yang tak mampu lagi berdiri
Namun aku harus terus berlari
Walau hanya bermodal insting dan naluri

Telah kugambarkanmu sebagai babi berkepala anjing
Mulutku tak sanggup lagi berkata mesrah
Hingga sumpah serapah terlahir dari kedua lobang hidung
Lantunkan kata-kata bijak penuh amarah

Perlahan cahaya terang mulai redup
Kertas yang dulunya putih berubah menjadi hitam
Bulan takkan akan lagi mampu beri cahaya dalam gelap
Tak ada lagi coretan pena pada sebongkah batu pualam

Hitampun mulai berbisik
Menghardik seolah bisikkan kata mesra
Bujuk rayu setan mulai menggoda
Hingga setia akan menjadi legenda
Menunggu mungkar sang malaikat pencabut nyawa

Dari tangan penuh dosa
Kuberserah menikmati kecewa
Kecewa pada ambisi yang membabi buta
Tak ada lagi sapaan kawan
Yang ada hanya urusan menjatuhkan tahta

Bebaskan ku pergi
Aku ingin mencari pelabuhan hati
Aku tak ingin lagi terikat pada jangkar
Karna kutak ingin terlempar karena lapar

Dari dosa-dosa yang pernah tercipta
Kau tutup semua dengan jutaan kata indah
Dirimu hadir seperti pujangga
Dalam gelap yang tak mungkin terang

Hitam pekat masih membelenggu
Tangis air mata seolah berkabung
Atas perginya sosok cinta sejati
Terkubur bersama tenggelamnya pagi

Takkan ku ulang lagi
Cerita duka bertopeng tawa
Dan tangis sendu yang semakin liar bertahta
Hingga langit berselimut kabut abadi