Thursday, September 3, 2026

Aku Adalah Sajak

Semarbak wangi dunia
Menambal lisan bicara
Kisah serapuh buih
Hebusan nafas berbisik lirih

Imajinasiku terbang
Melintasi dunia tanpa cerita
Lirih sunyi ayunkan langkah
Mengelilingi dunia yang semakin fana

Akulah sajak itu
Tertulis dalam kisah
Terpahat dalam cerita
Kaum kaum lemah tertindas

Akulah sajak itu
Menatang dunia
Yang tak lagi sama
Seperti sebelumnya


Thursday, January 22, 2026

Harapan

Terkadang melihatmu adalah
Surga yang begitu nyata
Indah melentik jiwa
Manis bagaikan surga

Hariku tanpamu
Seperti coretan usang tanpa pembaca
Aku seperti bangkai busuk
Tanpa gairah

Ku ikhlaskan segenap jiwa
Walau raga sudah tergolong renta
Kan kupuja kau seperti dewi atena
Walau dunia tlah mencabik dan menikam raga

Bertahun-tahun aku menantimu
Menunggumu turun dari surga
Menjadi sepasang merpati
Terbang bebas menembus fatamorgana

Saat ini kunantikan roh
Yang dititipkan tuhan dalam rahimmu
Seorang pewaris singgasana
Yang kelak menjadi penolong di alam barzah
Semoga kelak dia terlahir sempurna
Menggenapkan titahku sebagai seorang raja

Tuesday, April 2, 2024

Aku ikhlas tapi aku rindu

Dalam patah hati yang kuikhlaskan,
rindu masih menghantui dalam setiap detik.
Meski mencoba menyembunyikan,
kenangan dan bayanganmu tetap hadir,
mengisi ruang kosong dalam hati yang terluka.
Rasa ini, seperti pedang bermata dua,
mengajarkan arti ikhlas namun juga
memeluk kerinduan yang tak pernah pudar.

Rasa ini bagai paradigma yang rumit,
menghadirkan kontradiksi yang sulit dipahami.
Di satu sisi, aku mencoba merangkul ikhlas dan menerima keadaan,
namun di sisi lain, kerinduan yang mendalam terus menggelora,
menuntut perhatian dan penyelesaian.
Seperti dua kutub yang bertentangan namun saling melengkapi,
paradigma ini menjadi ujian batin yang tak kunjung berakhir.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang,
bergelut dengan intuisiku sendiri
yang tak henti memberikan pertanyaan tanpa jawaban.
Dalam sunyi yang menggelayut,
aku merenung pada cermin batin
yang penuh dengan kebingungan.
Setiap helaan nafas menjadi saksi bisu
dari pertarungan antara keikhlasan dan
kerinduan yang terus menghantui,
membentuk luka-luka yang tak terlihat
namun begitu dalam.

Saturday, January 20, 2024

Penikmat Hujan

Embun jatuh pelan,
senandung hujan,
dihati damai,
dalam riuh rindu.

Payung basah menari,
detik bergulir,
rasa hening meresap,
di setiap tetes yang tiba.

Puisi sirna,
dedaunan bertepi,
hening merayu, di riak-riak rintik,
merangkul kenangan.

Gelap pun bersahabat,
kilau lampu temaram,
dijendela, jalinan malam,
diam-diam mendongak.

Langit berkisah,
petir bisu bersapa,
langkah pelan menghiasi,
jejak cinta, dalam riwayat rahasia.

Embun malam bercerita,
di atap jendela,
tentang impian yang tersimpan,
dalam bisikan angin, menyelinap sepi.

Rintik melodi, menyatu dengan hati,
di pelukan malam,
penikmat hujan,
tukang cerita diam-diam.

Langit berkabut,
merayu petir diam,
dalam pelukan hujan, cerita sunyi,
tertulis di gerimis gelap.

Puisi malam menari,
sejuk meresap dalam pelukan senja,
di setiap titik hujan,
menyusuri luka-luka waktu.

Gelap berbicara,
dihiasi gemerisik rindu,
di tepi jendela, penikmat hujan,
mencium kenangan yang basah.

Tuesday, November 15, 2022

Kopi














Menikmatimu adalah candu
Seperti dua binatang yang bercumbu
Pahitmu bagiku nikmat
Manismu seperti neraka penuh duka

Kutemukan ampas ampas candu
Setiap kali kucumbu nikmatnya bibirmu
Kutemukan nikmatnya pahitmu 
Saat tegukan rindu basahi kerongkonganku

Bagiku
Kamu adalah sajak
Sihitam pahit penuh pesona
Nelangsaku lenyap ketika harummu
Merangsang indraku untuk bersenggama

Tuesday, December 3, 2019

Secawan Kopi















Kamu adalah patahan sajak
Saat pahitmu terasa begitu nikmat
Lidahku seolah menari binal
Disudut bibir secawan kopi


Kunikmati engkau penuh birahi
Nafsuku menggelora
Meski asap panas hadir
Saat lidahku menyetuh bibir cawanmu


Indraku terangsang
Pekat dan dingin malam
Seperti sebuah imajinasi
Hingga terlahir bait kata
Yang mungkin hanya ilusi

Friday, March 9, 2018

Selamat Pagi Hujan










Selamat pagi hujan
Terimakasih kau telah ingatkanku
Terimakasih kau telah berbicara pada rindu
Walau sesalku tak bisa kembalikan waktu

Selamat pagi hujan
Jangan kau halangi pagiku
Deras sapaanmu membuatku layu
Tak bisa kukepakkan lagi sayap patahku

Selamat pagi hujan
Akhirnya kita bertemu disini
Di tempat kutanam seribu tanya
Tentang mereka yang pergi berlalu
Dan tentang belum sempat kumiliki

Selamat pagi hujan
Jangan buat aku larut dalam episode kelam masa lalu
Jangan kau buat aku melupakan tuhanku
Sehingga membuatku dalam kekafiran

Selamat pagi hujan
Ajari aku beridiri tegak ditengah sapuan badai
Kokohkan kakiku agar kuat menahan ombak
Hingga aku mampu melawan
Kehinaan yang coba runtuhkanku


09 maret 2018

Monday, January 8, 2018

Sepenggal Waktu











Sepenggal waktu
Berasama detik berjalan seirama
Bertahan dalam balutan kata
Hingga aksara terhapat bagaikan benalu

Sepenggal waktu
Tlah berhasil rapuhkan kokohnya tiang penyangga
Rapuh bersama detik yang berjalan
Membuka mata senandungkan kata
Tak ada yang bisa melawan waktu

Sepenggal waktu
Berlalu bersama cahaya yang semakin gelap
Redup bersama lilin yang melemah
Terhenti saat nafas tak lagi berhembus

Tuesday, August 8, 2017

Mimpi











Mimpi
Antar kenyataan dan dunia fana
Menari-nari saat lelap tidur mencoba menanti pagi
Tak peduli dingin dan pekat kabut menyelimuti

Mimpi
Kadang datang bagaikan malaikat
Memberi seuntai senyum saat pagi menyambut
Kadang juga datang seperti setan
Membuat keringat dingin mengucur

Mimpi
Mungkin hanya sebuah ilusi
Namun terasa begitu nyata
Bahkan kadang bisa jadi sebuah tanda

Wednesday, June 7, 2017

GERSANG










Ku hampiri tanya
yang kembali terulang
Saat serpihan kejenuhan
coba mempertegas jati diri
Mimpi yg dulu menggebu
kini tak mampu menopang badan

Selir hembusan angin seolah berkhotbah
Mencoba beri sedikit motifasi
agar nafas sesak keluar dari persendian
Kugapai tongkatku Sebari berharap
titah tuhan beri sedikit pertolongan

Saat itu hujan tlah lama kunanti
Kemarau panjang tlah membuat
rumput di savana menguning
Banyak nafas tlah berhenti
hingnga tersisa tulang
Yang bersembunyi dibalik belatung

Rumput, pepohonan
dan sejumlah mahluk lainnya mulai berdendang
Nyanyikan syair penuh harapan
Berharap langit
tersentuh dan menagis kencang
Nyanyian itu seperti suara mereka
yang sedang merintih kehausan

Wednesday, April 19, 2017

Bungaku










Bungaku
Maaf aku datang menyapamu
Mungkin ini bukan saat yang tepat untukku
Namun aku tak punya pilihan
Sepenggal kata yang terpaksa bangunkanku

Bungaku
Maaf aku datang menyapamu
Aku hanya ingin mencari sedikit celah
Agar namaku terpajang jelas dihatimu
Walau itu tak berbingkai

Bungaku
Kesadaranku sesungguhnya tlah mencoba halangi niatku
Namun penyesalan tak ingin terucap dalam senandungku
Untuk bisa merasa sedikit kecupan darimu

Bungaku
Saat kau baca titahku
Aku hanya ingin berharap
Sedikit manis dari sepotong roti

Maka dari itu
ijinkan aku mendobrak pintu hatimu
Agar kutau
dimana tempat yang layak
untuk melukis namaku

Saturday, April 1, 2017

Bangkit dan berdirilah kawan











Ada sesuatu yang tak biasa
Itu jelas terlihat dari bening matamu
Sesuatu yang menandakan
Dirimu dalah tekanan hebat
Sekitar matamu basah
Seperti sedang dirundung pilu

Bekata aku dalam hati
Mencoba untuk memasang pundak
Untuk kau lampiaskan kesedihan
Atau untuk menopang ragamu
Agar tak semakin jatuh terpuruk

Bertahanlah kawan
Ini ujian tuhan
Yakinlah akan datang bahagia
Saat itu mentari akan datang
Beri sedikit cahaya kala hujan
Hingga senyum terindah itu
Kembali temani harimu

Wednesday, January 25, 2017

PESAN TERAKHIR












Disela bisik angin yang berhembus
Kutitip pesan rinduku tersirat
Aku seperti tersesat
Menantang keras hidup
Dari balik baju besi yang tak mampu ku bawa sendiri

Malam ini
Sajakku menyajung
Sambil kutengadahkan tangan
Mengharap Belas Kasihan
Memuja ilahi berselimut harapan dan kecemasan

Aku seorang serdadu
Bukan seorang babu
Bebanku terlalu barat tuk kupikul
Ada titah raja yang menginjak
Menuntunku hancurkan perisai kehidupan

Esok akan kucoba kembali
Menuliskan titah pada sebuah prasasti
Hingga kelak anak cucuku tau
Aku pernah hidup sebagai seorang pemberontak

Monday, January 23, 2017

Tetang Sesuatu














Ini tentang sesuatu
Tentang langkah terbatah
Yang mencoba meraih sebutir gandum
Ada silat lidah
menuntun mata pada sesuatu
Ini bukan tentang cinta
Bukan pula tentang perjuangan
mengangkat senjata

Ini tetang sesuatu
Sesuatu yang mungkin lebih kritis
Tentang apa yang memacu nadi berfikir
Tentang mereka yang membuat
Wajah ini memucat

Ini tentang sesuatu
Bukan Tentang cerita horror
Yang membuat anak kecil menangis
Bukan pula tentang hembus nafas teengah
Memacu birahi

Ini tentang sesuatu
Tentang keserakahan
Tentang kemunafikan
Yang bersembunyi dibalik Topeng
Yang mereka umbar

Tuesday, June 28, 2016

Untuk Tuan




















Dari beberapa kata yang tuan sabdakan
Tersirat sebuah cerita
Tentang desah nafas yang membangkang
Tentang lantang tuan menolak penindasan

Sejarah telah mencatat
Semangat pantang menyerah
Perjuangan tuan
Yang tak kenal putus asa

Tuan Sosok yang terpilih
Wibawa tuan butakan kami
Kami seolah terhipnotis
Kami terhanyut cerita fiksi

Kami tersadar
Ini semua hanya sandiwara
Kami terjerat dalam cerita
Untuk memperbudak kami yang tertindas

Thursday, June 23, 2016

Bimbang
















Saat ku ayungkan langkah
Bisik hati terus bertanya
Sebuah pertanyaan
Yang Tuhan sendiri tak tau jawabannya

Lelah kemudian terpampang
Seolah menjadi selimut
Pada pertanyaan yang tak terjawab

Mungkin terlalu jauh melambungkan angan
Mungkin Urat saraf tak cukup hanya untuk bicara
Mulut pun terdiam, terkunci, dan bungkam
Sehingga tubuh hanya mampu meratap bimbang

Tuesday, November 10, 2015

Penyesalan





Dan akhirnya lelahku berontak
Letihku bercampur amarah
Tubuhku tak bisa bergerak
Seperti terkurung dalam sebuah keranda

Tak sengaja peluru-peluru tajam
Meluncur keberbagai arah
Hingga membuat kawan menjadi lawan
Seperti anjing-anjing yang tak mengenal tuan

Dalam kebimbangan kucabut belatihku
Kuteteskan darah penebus dosa
Sembari berharap langitkan mengulang waktu
Penyesalan tak terlukis dari setiap helai kata

Tuesday, June 30, 2015

Selamat Tidur Kekasih














Tidurlah kekasih...
Hadirkan keindahan saat engkau bermimpi
Hingga saat pagi menghapiri
Nelangsa perlahan terhapus oleh senyuman mentari

Tidurlah kekasih...
Kukirim doa temani mimpi
Agar kau terjaga dari godaan halusinasi
Yang kembali membuat air matamu mengalir

Tidurlah kekasih...
Dekap erat bayangku dalam pelukmu
Kan kubelai helai rambutmu dari jauh
Agar rasa sayangku mekarkan melati
Saat pagi menghampiri

Tidurlah kekasih...
Biarkan terangnya bulan
membuatmu lupa saat kau menangis
Sembari berharap
Semoga esok pagi
Mentari mekarkan melati
Semoga esok pagi
Senyuman yang kupuja kembali menghias hari

Tuesday, June 16, 2015

Coretan Kecil Hari Ini

Dibenakku,, Telah tertanam deretan kata berbaris rapi kata yang mungkin sanjungan ketika ku tatap pi merah merona mekar seperti rangkaian kelopak mawar Deretan kata yang telah terancang sedemikian rupa hingga ku sadar,, berat bibirku tak sanggup menggoyang lidah untuk berucap Ini bukan cinta hanya sebuah kekaguman pada sesuatu sesuatu keindahan yang membuat sang adam berloba untuk milikinya













Dibenakku,,
Telah tertanam deretan kata berbaris rapi
kata yang mungkin sanjungan
ketika ku tatap pi merah merona
mekar seperti rangkaian kelopak mawar
Deretan kata yang telah terancang sedemikian rupa
hingga ku sadar,,
berat bibirku tak sanggup menggoyang lidah untuk berucap
Ini bukan cinta
hanya sebuah kekaguman pada sesuatu
sesuatu keindahan yang membuat sang adam
berloba untuk milikinya

Friday, March 27, 2015

Hitam
















Saat ombak mulai berbisik cinta pada pasir
Membuat angin tak mampu berkutik
Hingga langit menangiskan hujan
Membungkam kemarau
Yang tak lagi bisa tertawa

Maaf kubukan pujangga pelantun nada
Serak suara membuat kupingmu bernanah
Namun kukan terus dendangkan irama
Hingga bola matamu tangiskan darah

Ini bukan lirik cinta
Bukan pula nyanyian dusta
Ini hanya penggalan kata
Saat coba bertahta di ujung lidah
Saat kau memutar balikkan fakta

Aku bagai seorang nahkoda tanpa perahu
Menerjang ombak dengan sebilah bambu
Terlentang diantara tiang penyangga
Hingga membuat ragaku sakit jiwa

Bumi seolah bernyanyi
Tertawakan kaki yang tak mampu lagi berdiri
Namun aku harus terus berlari
Walau hanya bermodal insting dan naluri

Telah kugambarkanmu sebagai babi berkepala anjing
Mulutku tak sanggup lagi berkata mesrah
Hingga sumpah serapah terlahir dari kedua lobang hidung
Lantunkan kata-kata bijak penuh amarah

Perlahan cahaya terang mulai redup
Kertas yang dulunya putih berubah menjadi hitam
Bulan takkan akan lagi mampu beri cahaya dalam gelap
Tak ada lagi coretan pena pada sebongkah batu pualam

Hitampun mulai berbisik
Menghardik seolah bisikkan kata mesra
Bujuk rayu setan mulai menggoda
Hingga setia akan menjadi legenda
Menunggu mungkar sang malaikat pencabut nyawa

Dari tangan penuh dosa
Kuberserah menikmati kecewa
Kecewa pada ambisi yang membabi buta
Tak ada lagi sapaan kawan
Yang ada hanya urusan menjatuhkan tahta

Bebaskan ku pergi
Aku ingin mencari pelabuhan hati
Aku tak ingin lagi terikat pada jangkar
Karna kutak ingin terlempar karena lapar

Dari dosa-dosa yang pernah tercipta
Kau tutup semua dengan jutaan kata indah
Dirimu hadir seperti pujangga
Dalam gelap yang tak mungkin terang

Hitam pekat masih membelenggu
Tangis air mata seolah berkabung
Atas perginya sosok cinta sejati
Terkubur bersama tenggelamnya pagi

Takkan ku ulang lagi
Cerita duka bertopeng tawa
Dan tangis sendu yang semakin liar bertahta
Hingga langit berselimut kabut abadi